September 23, 2026 Oleh Author_Yesti 0

Makanan Ultra-Proses Semakin Populer, Mengapa Perlu Dibatasi?

Makanan ultra-proses semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mi instan, camilan kemasan, minuman manis, makanan beku, sereal tertentu, hingga makanan siap santap mudah kita temukan di toko dan supermarket.

Kepraktisan menjadi alasan utama banyak orang memilih produk tersebut. Kita bisa menyiapkan makanan dalam waktu singkat tanpa harus membeli banyak bahan atau memasak dari awal.

Namun, konsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi mulai mendapat perhatian dalam dunia kesehatan. WHO menyoroti makanan yang tinggi gula, natrium, atau lemak tidak sehat sebagai bagian dari pola makan yang perlu dibatasi.

Lantas, apa sebenarnya makanan ultra-proses dan mengapa kita perlu memperhatikan jumlahnya?

Apa Itu Makanan Ultra-Proses?

Makanan ultra-proses merupakan produk yang melewati berbagai tahapan pengolahan dan biasanya mengandung sejumlah bahan tambahan atau formulasi industri.

Istilah ini berbeda dari makanan yang sekadar mengalami proses pengolahan. Memasak sayuran, menggiling gandum, atau mempasteurisasi susu juga termasuk proses pengolahan, tetapi tidak otomatis membuat makanan tersebut masuk kategori ultra-proses.

Sistem klasifikasi NOVA mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahannya. Kelompok ultra-proses mencakup berbagai produk dengan formulasi industri yang kompleks, seperti sebagian makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, mi instan, dan makanan siap santap.

Karena itu, kita tidak bisa menentukan kategori makanan hanya dari kemasannya. Komposisi dan proses pembuatannya juga perlu kita perhatikan.

Mengapa Makanan Ultra-Proses Banyak Dipilih?

Kepraktisan menjadi daya tarik utama makanan ultra-proses. Produk seperti mi instan, makanan beku, atau makanan siap santap dapat membantu seseorang menghemat waktu ketika memiliki aktivitas padat.

Produsen juga menawarkan banyak pilihan rasa, ukuran, dan bentuk. Konsumen bisa memilih produk sesuai selera tanpa harus mengolah bahan dari awal.

Kemudahan penyimpanan ikut memperkuat daya tariknya. Beberapa produk dapat bertahan lebih lama sehingga orang bisa menyimpannya untuk kebutuhan tertentu.

Harga dan ketersediaan juga membuat makanan ultra-proses mudah masuk ke menu harian. Kita dapat menemukan berbagai produknya di minimarket, supermarket, kantin, hingga layanan pesan-antar makanan.

Masalahnya muncul ketika produk praktis tersebut terlalu sering menggantikan makanan dengan komposisi yang lebih beragam.

Apa yang Perlu Diperhatikan dari Makanan Ultra-Proses?

Tidak semua makanan ultra-proses memiliki kandungan gizi yang sama. Karena itu, kita perlu melihat komposisi setiap produk sebelum membuat penilaian.

Sebagian produk mengandung gula, natrium, atau lemak dalam jumlah tinggi. Jika seseorang terlalu sering mengonsumsi makanan dengan kandungan tersebut, pola makannya dapat menjadi kurang seimbang.

WHO menganjurkan masyarakat untuk mengutamakan pola makan yang beragam. Buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein dapat mengisi menu harian sesuai kebutuhan masing-masing.

Karena itu, kita sebaiknya tidak hanya bertanya apakah suatu makanan termasuk ultra-proses. Kita juga perlu melihat kandungan gizi, ukuran porsi, dan seberapa sering kita mengonsumsinya.

Apa Hubungannya dengan Kesehatan?

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dan sejumlah masalah kesehatan.

Tinjauan besar yang terbit di The BMJ pada 2024 menganalisis 45 analisis gabungan dengan hampir 9,9 juta peserta. Peneliti menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses yang lebih tinggi dan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiometabolik, beberapa masalah kesehatan mental, serta kematian. Namun, kualitas bukti berbeda untuk setiap hasil dan sebagian besar analisis memiliki tingkat kepastian bukti rendah atau sangat rendah.

Hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa satu jenis makanan tertentu secara langsung menyebabkan penyakit.

Pola hidup secara keseluruhan juga ikut berperan. Aktivitas fisik, kualitas tidur, kebiasaan makan, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi kesehatan seseorang.

Karena itu, kita perlu melihat makanan ultra-proses sebagai salah satu bagian dari pola makan, bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi kesehatan.

Apakah Semua Makanan Kemasan Harus Dihindari?

Tidak. Makanan kemasan tidak otomatis memiliki kualitas gizi yang buruk.

Beberapa produk kemasan justru dapat membantu orang mendapatkan makanan dengan lebih mudah. Kita tetap perlu melihat kandungan dan porsi setiap produk.

Masalah utama muncul ketika seseorang menjadikan makanan ultra-proses sebagai sumber makanan utama setiap hari. Kondisi tersebut dapat membuat konsumsi makanan yang lebih beragam menjadi berkurang.

Misalnya, seseorang mungkin terlalu sering mengandalkan mi instan, camilan, minuman manis, dan makanan siap santap. Pada saat yang sama, ia bisa mengurangi konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, atau sumber protein lainnya.

Jadi, bukan berarti kita harus menghapus seluruh makanan praktis dari menu. Kita justru perlu menjaga keseimbangan dan variasi makanan.

Bagaimana Cara Mengurangi Konsumsinya?

Kita tidak perlu mengubah pola makan secara drastis. Mulailah dengan perubahan sederhana yang mudah dipertahankan.

Pertama, tambahkan lebih banyak makanan yang minim proses ke dalam menu. Buah segar, sayuran, telur, ikan, kacang-kacangan, dan bahan makanan segar lainnya dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan.

Kedua, kurangi kebiasaan menjadikan makanan ultra-proses sebagai pilihan utama setiap kali lapar. Jika memiliki waktu, siapkan makanan sederhana dari bahan yang lebih beragam.

Ketiga, perhatikan minuman. Minuman manis dapat menyumbang asupan gula dalam jumlah cukup besar. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.

Keempat, biasakan membaca label kemasan. Periksa jumlah gula, natrium, lemak, protein, serat, serta ukuran sajian sebelum membeli produk.

Terakhir, perhatikan frekuensi. Seseorang tidak harus langsung berhenti mengonsumsi makanan favoritnya. Mengurangi frekuensi dan menyeimbangkannya dengan makanan lain bisa menjadi langkah yang lebih realistis.

Kenapa Kesadaran tentang Makanan Ultra-Proses Penting?

Makanan ultra-proses menawarkan banyak kemudahan. Produk tersebut membantu orang menghemat waktu dan menyediakan pilihan makanan yang praktis.

Namun, kemudahan juga membuat kita perlu lebih sadar terhadap pola makan. Ketika makanan ultra-proses terlalu sering menggantikan makanan yang lebih beragam, kualitas pola makan secara keseluruhan dapat menurun.

Karena itu, kita tidak perlu melihat makanan ultra-proses sebagai makanan yang selalu buruk. Kita justru perlu memahami kandungannya, memperhatikan porsinya, dan mengatur frekuensi konsumsinya.

Dengan cara tersebut, makanan praktis tetap bisa masuk ke kehidupan sehari-hari tanpa menggeser keberagaman makanan yang tubuh perlukan.

Baca juga: Bioindikator Kesehatan Lingkungan: Alasan Kepik Peka Polusi